Sabtu, 05 Oktober 2013

ISTIQOMAH



Dari Sufyan bin ‘Abdillah r.a., dia berkata, “Wahai Rasulullah, ucapkanlah kepadaku suatu ucapan dalam islam, yang aku tidak menanyakannya kepada selain engkau.” Rasulullah menjawab, “Ucapkanlah, aku telah beriman. Kemudian beristiqomahlah!”
Istiqomah  dapat diartikan ketetapan hati dalam bertauhid. Ibnu Taimiyah berkata, sebesar-besar karomah adalah istiqomah.
Istilah lain yang berkaitan dengan istiqomah adalah:
1.    As-Sadaad                    : bertindak secara benar untuk mencapai tujuan
2.    Al-Muqarabah            : melakukan tindakan yang benar yang mendekati tujuan
Faktor-faktor yang dapat menumbuhkan istiqomah yaitu:
1.    Beramal dan melakukan optimalisasi
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan perpegang teguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu: Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. 22 : 78)
2.    Jangan melampaui batas
3.    Ikhlas
Buah dari istiqomah yaitu:
1.    Adanya saja’ah / keberanian yang luar biasa (QS. 41 : 30)
2.    Ketenangan dalam hatinya (QS. 47 : 7)
3.    Syafa’ul / optimis
Ketika seseorang telah beriman, maka ia harus istiqomah dalam 3 hal, yaitu :
1.    Lisan
Mengungkapkan keimanan dengan lisan, yang tercermin dalam kehidupan sehari-harinya.
2.    Hati
Tidak ada keraguan sedikitpun
3.    Amal perbuatan

Selasa, 01 Oktober 2013

Cerpen Ke sebelas



KELINCI YANG RIANG

Di sebuah hutan kecil yang damai, hiduplah seekor kelinci yang riang, ramah, dan suka melompat. Setiap pagi ia keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Di sepanjang perjalanan, sambil melompat-lompat dengan riang, Si Kelinci menyapa tiap warga hutan dengan keramahannya.
“Selamat pagi, Kawan!” sapanya pada Ayam Hutan yang sedang bertengger pada sebuah dahan.
“Selamat pagi, Kelinci!” jawab Si Ayam Hutan.
“Rajin sekali! Sepagi ini sudah keluar dari sarang,” lanjut Si Ayam Hutan.
“Iya. Pagi ini perutku terasa lebih lapar dari biasa. Jadi, aku harus segera mencari makanan untuk mengisi perutku ini,” jawab Si Kelinci.
“Kalau begitu bergegaslah! Sebelum kalah dengan kelinci yang lain. Ha..ha..!” timpal Si Ayam Hutan sambil bercanda.
”Oke! Aku pergi dulu, ya…” kata Si Kelinci berpamitan.
Begitulah. Di sepanjang jalan, Si Kelinci meneriakkan “Selamat Pagi” pada penduduk hutan yang ditemuinya, sambil terus melompat. Tak heran, jika semua penduduk hutan mengenalnya dan menyukainya. Sehari saja Si Kelinci tidak muncul, maka seisi hutan akan menanyakan keberadaannya.
Dua hari kemarin, Si Kelinci memilih wortel sebagai menu makanannya. Hari ini, ia ingin makan umbi-umbian. Si Kelinci ingat bahwa di pinggir hutan, didekat rumpun pohon bambu, ada beberapa tanaman umbi di sana. Ia bisa menggali dan memakannya.
Membayangkan umbi hutan yang besar dan segar, perut Si Kelinci langsung berbunyi. Si Kelinci pun bergegas menuju pinggir hutan dengan riang. Berharap umbi-umbian di sana belum diambil oleh kelinci lain.
Dari kejauhan, rumpun bambu terlihat tinggi menjulang. Di balik rumpun bambu itulah tanaman umbi-umbian itu berada. Si Kelinci mempercepat lompatannya karena perutnya semakin meronta minta diisi. Saking laparnya, Si Kelinci tidak hati-hati saat melompat. Tiba-tiba saja,
“Aduh!” sebuah teriakan keras terdengar dari mulut  Si Kelinci.
“Aduh…aduh…aduh…” Si Kelinci meringis sambil terus mengerang.
Si Kelinci pun menghentikan lompatannya. Telapak kakinya terasa sakit dan perih. Sejurus kemudian, Si Kelinci mengangkat kaki kanannya. Sebatang duri terlihat menancap di sana. Ia mengerang kesakitan. Ia menyesal. Gara-gara lapar, ia tidak hati-hati saat melompat. Sehingga kakinya menginjak duri bambu.
Pada saat Si Kelinci tengah mengerang kesakitan, lewatlah Si Gajah. Ia heran melihat Si Kelinci mengerang kesakitan. Ada apa, ya? Si Gajah bertanya dalam hati. Si Gajah pun menghampiri Si Kelinci.
“Ada apa, Kelinci? Apa  yang kau lakukan di sini? Sepertinya kamu sedang kesakitan?” tanya Si Gajah.
“Aku sangat lapar pagi ini. Aku mau mencari umbi di balik rumpun bambu itu. Tapi aku tidak hati-hati. Sehingga kakiku menginjak duri. Sakit sekali..!” jawab Si Kelinci.
“Kasihan sekali. Mari kubantu kembali kerumahmu,” kata Si Gajah.
“Terima kasih, Gajah,” kata Si Kelinci.
Gajah pun membawa Kelinci ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, penduduk hutan heran melihat Gajah berjalan dengan tergesa-gesa sambil mengangkat Si Kelinci dengan belalainya. Mereka menyimpan banyak tanya, ada apa gerangan?
Setibanya di rumah Kelinci, Si Gajah membaringkan Kelinci.
“Tunggu sebentar, ya… Aku akan memanggil Ayam Hutan untuk mencabut duri di kakimu,” kata Si Gajah.
“Iya. Terima kasih, Gajah,” jawab kelinci.
Gajah bergegas mencari Ayam Hutan. Ia menceritakan apa yang terjadi pada kelinci dan meminta tolong untuk mencabut duri dari kaki Kelinci.
“Baiklah, mari kita segera ke sana!” kata Ayam Hutan.
“Kau ke sana dulu saja. Aku akan mencarikan beberapa umbi untuk Kelinci. Pastilah dia belum makan,” kata Si Gajah.
Setelah berterima kasih dan berpamitan, Gajah bergegas mencari umbi untuk Kelinci. Ayam Hutan pun segera menuju ke rumah Kelinci.
Ketika Ayam Hutan tiba di rumah Kelinci, ada beberapa penduduk hutan yang memenuhi rumah Si Kelinci. Mereka ingin tahu apa yang terjadi. Ayam Hutan segera mendekati Kelinci yang masih terus mengerang. Dengan bantuan Kucing Hutan, Ayam Hutan berusaha mencabut duri di kaki Kelinci.
Teriakan keras dari mulut Kelinci pun terdengar ketika duri itu berhasil dicabut. Dengan sigap, Si Kucing Hutan segera mengobati luka Si Kelinci. Setelah keadaan Kelinci lebih baik, Gajah memberikan umbi-umbian yang telah diperolehnya pada Kelinci.
“Ini, makanlah! Biar tenaga kamu pulih. Kamu kan sepagian ini belum makan,” kata Gajah.
Kelinci mengambil umbi pemberian Gajah. Ia pun makan dengan lahap. Sesekali ia meringis, karena kakinya masih terasa sakit.
Setelah kenyang, Kelinci berterima kasih pada teman-temannya.
Kelinci tidak keluar sarang selama beberapa hari, untuk memulihkan kakinya yang sakit. Ada yang berubah pada suasana hutan. Tidak ada sapaan ramah di pagi maupun sore hari. Tidak ada yang melompat dengan riang di sepanjang jalan. Suasana hutan jadi sedikit sepi dan muram. Penduduk hutan pun merindukan kehadiran Si Kelinci. Untuk itu, mereka selalu menjenguk Kelinci. Mereka berharap Si Kelinci segera sembuh.
Setelah sepekan beristirahat, Si Kelinci telah pulih kembali. Pagi ini, ia bersiap untuk ke luar sarang dan mencari makan. Ketika ia melangkahkan kaki ke luar, hal  pertama yang dilihatnya adalah Ayam Hutan yang bertengger di atas pohon.
“Selamat pagi, Ayam Hutan….!!” Sapanya dengan penuh semangat.
“Selamat pagi, Kelinci! Sudah sembuh, ya? Bersiap mencari makanan pagi ini?” jawab Ayam Hutan.
“Iya! Berkat kau dan seluruh penduduk hutan, kakiku sembuh dan aku bisa melompat-lompat lagi! Terima kasih, ya…!” kata Si Kelinci.
Sedetik kemudian, Si Kelinci telah melompat-lompat dengan riang. Di sepanjang jalan, terdengarlah teriakan yang penuh semangat.
“Selamat pagi, Kucing!”
“Selamat pagi, Burung Pipit!”
“Selamat pagi, Gajah!”
“Selamat pagi, semua…!”
“Selamat pagi…!”
Seiring dengan sapaan Si Kelinci yang riang dan penuh semangat, suasana hutan pun ceria kembali. (nien za)

Minggu, 29 September 2013

Belajar Kung Fu Tanpa Harus Meninggalkan Pencak Silat Sebagai Budaya Asli Indonesia


Kung Fu adalah beladiri tradisional yang dikembangkan di dataran cina, beladiri kung fu sangat begitu mendunia karena gerakannya yang unik serta jurusnya mematikan juga cepat. Kung fu juga mengajari manusia untuk mempunyai filosofi dalam menjalani hidup. Bela diri Kung fu sangatlah digemari oleh seluruh penjuru di dunia termasuk kita bangsa Indonesia. Seringkali kita mencari-cari informasi tentang pelatihan beladiri kung fu agar bisa menjadi seorang pendekar kung fu yang hebat entah untuk tujuan membela diri atau hanya untuk tujuan kesehatan semata dan masyarakat awam menilai bahwa beladiri kung fu adalah beladiri praktis yang dengan beberapa kali latihan langsung bisa, hal ini juga maraknya tindakan kriminal yang terjadi pada bangsa kita. Bela diri kung fu sangat diminati oleh orang Indonesia karena hampir di setiap stasiun televisi swasta menampilkan film kung fu yang akhirnya membuat mindset orang Indonesia tertarik pada beladiri kung fu. Secara harfiah kung Fu berarti melakukan dengan sungguh-sungguh. Seorang ahli masak yang sudah 20 tahun pun bisa dibilang jago kung fu karena selama lebih dari 20 tahun seseorang tersebut melakukannya (memasak) dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Tidak ada hasil yang instan.
Satu hal yang sangat terlupakan oleh kita dan apabila dibiarkan berlarut-larut maka akan sangat fatal, hal itu adalah Pencak Silat. Pencak Silat adalah beladiri asli Indonesia, pencak silat juga merupakan bagian dari budaya asli Indonesia dan bertujuan untuk membangun integeritas Bangsa Indonesia. Pencak silat bukan hanya sekedar bertarung dan budaya, tetapi pencak silat juga mengajarkan manusia untuk mempunyai prinsip dalam hidup. Banyak aspek yang ditekankan pada pencak silat yaitu aspek mental spiritual, olahraga, seni dan beladiri, karena di dalam pencak silat terdapat pendidikan karakter yang sangat istimewa. Menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai Bangsa Indonesia untuk memelihara budaya asli bangsa kita. Pencak silat juga menunjukan sebuah identitas, identitas sebagai rakyat yang cinta kepada bangsanya. Sungguh sedih apabila kita sebagai rakyat Indonesia tidak memahami apa itu pencak silat dan akhirnya pencak silat pun punah di kandang sendiri. Menjadi kewajiban dan tanggung jawab kita bersama untuk memelihara pencak silat secara utuh.
Salah satu perguruan pencak silat yang mempunyai warna gerak kung fu adalah perguruan Ikatan Keluarga Silat Pro Patria atau IKS Pro Patria. IKS Pro Patria didirikan oleh Victor Lie Kuang Hwa yang biasa dipanggil Koh Hwa pada tahun 1971 di madiun. Pro Patria yang artinya Pro adalah membela dan Patria adalah cinta tanah air yang apabila digabung berarti pembela tanah air dan bergabung pada Ikatan Pencak Silat Indonesia pada tahun 1975. Pro Patria didirikan bertujuan agar manusia hidup bias membawa kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar dan berguna bagi bangsa dan negaranya. Ilmu di pro patria adalah “Nan Jien Pei Tui” yang artinya tendangan utara pukulan selatan karena kung fu di dataran cina utara lebih mengandalkan tendangan dan kung fu di dataran cina selatan lebih mengandalkan tangan. Pro patria pun mengajarkan murid-muridnya untuk memegang teguh prinsip perguruan yaitu:
IKRAR ANGGOTA IKS PRO PATRIA
  • Pertama. Kami akan selalu pemperhatikan PANCA LARANGAN PERGURUAN
  1. Larangan bertingkah sombong.
  2. Larangan bertingkah pamer.
  3. Larangan bertindak sewenang-wenang.
  4. Larangan mencemarkan kehormatan.
  5. Larangan melanggar peraturan pemerintah dan ikatan keluarga.
  • Kedua. Kami akan selalu menjunjung tinggi. PANCA KEHARUSAN PERGURUAN
  1. Keharusan mengalah.
  2. Keharusan membela yang lemah.
  3. Keharusan membela kebenaran.
  4. Keharusan berbakti kepada orang tua.
  5. Keharusan menghormati guru.
Salah satu wasiat Koh Hwa kepada muridnya adalah sabar, eling, tawakkal, narimo lan waspada. Latihan di pro patria menekankan muridnya pda empat aspek yaitu: Bela Diri (melindungi diri dan orang lain yang membutuhkan), Olah Raga (untuk kesehatan dan kebugaran), Seni (untuk keindahan gerak yang terpadu dan dihayati benar-benar), dan Mental (ketekunan, kesabaran, ketenangan, keuletan dan kebijaksanaan). Sejalan dengan bertambahnya usia perguruan ini dan menyesuaikan kebutuhan warganya, PRO PATRIA pun terus berkembang. Bagi pro patria, bela diri tidak lagi  hanya bermakna kemampuan membela diri seperti mengelak, menangkis, dan jika perlu membalas serangan lawan, tetapi juga membela diri secara utuh seperti kemampuan menangkal penyakit dan atau penyembuhannya. Ilmu pernafasan yang sejak awal diberikan ke pada warganya adalah salah satu contoh ilmu pernafasan yang dimiliki  pro patria yang mampu memelihara diri mereka dari berbagai serangan dari luar dirinya. Tinggi-rendahnya kepandaian ilmu silat seseorang tergantung pada masak tidaknya inti-inti ilmu silatnya. Apa tingkatannya dan macam apa ilmu silat yang telah dipelajarinya tidak menjadi prinsip. Ada peribahasa dalam persilatan bahwa untuk menjadi ahli silat yang tangguh perlu memiliki: pertama keberanian, kedua kekuatan, dan ketiga jurus-jurus yang masak inti-intinya. I Tan, Êr Li, San Kung Fu. Bagi pembaca yang tertarik belajar kung fu tetapi enggan meninggalkan pencak silat sebagai budaya asli Indonesia silahkan hubungi kami di http://www.propatria.ukm.ugm.ac.id/. Mari kita lestarikan pencak silat sebagai budaya asli Indonesia dan membangun integeritas bangsa melalui pencak silat. Jaya Pencak Silat!
(Oleh: Tommy Andjar, http://www.propatria.ukm.ugm.ac.id)

Cerpen Ke sepuluh



K A N V A S

Pukul tujuh lebih dua puluh lima menit. Bel tanda masuk kelas telah berbunyi. Anak-anak yang sedang bermain-main di depan kelas dan di halaman sekolah segera bergegas menuju ke kelas masing-masing. Sebelum masuk kelas, anak-anak berbaris di depan kelas dipimpin oleh ketua kelas masing-masing, barulah kemudian masuk kelas satu persatu. Keriuhan yang sebelumnya mewarnai halaman sekolah pun berubah menjadi sebuah kesunyian.
Bu Andri, wali kelas IV, datang bersama seorang siswi baru. Setelah mengucapkan salam dan berdoa, Bu Andri memperkenalkan siswa baru itu. Namanya Susmita Saraswati, biasa dipanggil Mita. Setelah perkenalan, Bu Andri menyuruh Mita untuk duduk di bangku tepat di belakang Desi, bersebelahan dengan Hera. Setelah Mita duduk, Bu Andri pun kemudian melanjutkan pelajarannya.
Ketika istirahat tiba, anak-anak kelas IV mengerubungi Mita. Masing-masing anak ingin berkenalan langsung dengan Mita. Mereka bertanya banyak hal pada Mita. Mita pun sangat bersemangat menjawab pertanyaan mereka. Seulas senyum sesekali terlihat dari bibir Mita. Ternyata Mita adalah anak yang sangat supel dan menyenangkan.
Waktu istirahat telah habis. Tibalah saatnya pelajaran SBK. Bu Arsita, guru yang mengampu pelajaran SBK, datang dengan membawa sesuatu yang dibungkus kantong besar. Minggu kemarin Bu Arsita berjanji bahwa hari ini beliau akan memperlihatkan pada anak-anak alat-alat untuk melukis.
Pelajaran pun dimulai. Setelah mengucapkan salam dan memberi sedikit penjelasan, Bu Arsita mulai mengeluarkan barang-barang dari kantong besar tersebut. Ada kuas, pallet, dan cat air. Ketika Bu Arsita mengeluarkan sesuatu yang besar,  berwarna putih, dan berbentuk persegi panjang, terdengar jeritan histeris dari bangku belakang. Ternyata itu adalah jeritan Mita. Dia berteriak dengan mimik muka ketakutan. Kontan seluruh kelas bingung. Akhirnya Bu Arsita bertindak. Bu Arsita segera membawa Mita keluar.
***
Mita dilahirkan di Padang. Dia adalah anak tunggal. Sejak kecil, Mita sangat senang menggambar. Apapun yang ditemui, bisa menjadi sarana menggambar dan apapun yang dilihat, bisa menjadi obyek gambar Mita. Mengetahui bakat anaknya tersebut, orang tua Mita kemudian memasukkan Mita ke sebuah sanggar lukis. Berbekal pengetahuan yang didapat dari sanggar lukis, Mita mulai mencoba mengikuti beberapa ajang melukis, untuk melatih keberaniannya. Mita pun makin sering ikut perlombaan dan mulai mengukir prestasi.
Suatu hari, orang tua Mita mendapatkan informasi bahwa akan diadakan lomba lukis tingkat nasional yang diselerenggarakan di Jakarta. Mita sekeluarga pun berangkat ke Jakarta untuk mengikuti lomba tersebut. Namun ditengah perjalanan terjadi kecelakaan yang mengakibatkan orang tua Mita meninggal. Kecelakaan itu mengakibatkan trauma pada Mita. Mita merasa dialah penyebab kematian orang tuanya. Dan sejak kecelakaan itu, Mita selalu histeris jika melihat kanvas. Sehingga Mita pun akhirnya berhenti melukis.
Kini, Mita diasuh oleh pamannya di Bandung dan bersekolah di SD Mentari Pagi. Bu Arsita memahami apa yang terjadi pada Mita. Beliau mengkomunikasikan hal tersebut pada paman Mita. Bekerjasama dengan seorang psikolog dan paman Mita, Bu Arsita berusaha menyembuhkan trauma Mita dan ketakutan Mita pada kanvas.
Bagi Mita, proses terapi adahal hal yang sangat menyakitkan baginya. Karena itu berarti dia harus mengingat kembali kejadian yang sangat mengguncang jiwanya. Namun, Mita sadar bahwa dia tidak boleh terkungkung dalam ketakutannya. Dia harus berusaha mengalahkan ketakutannya terhadap kanvas, sehingga dia bisa berkarya lagi.
Setahun penuh terapi dijalankan dan mulai membuahkan hasil. Mita sudah mulai berani memegang kanvas. Tapi dia masih takut untuk melukis.
Terapi terus dijalankan. Hingga akhirnya, dengan keinginannya yang kuat, Mita pun mampu melukis lagi. Ia mulai mengasah kembali bakatnya. Dan sedikit demi sedikit ia mampu mengukir prestasinya kembali.
Kini keinginan Mita cuma satu. Dia ingin mengadakan pameran lukisan tunggal. Ia jadi lebih giat dan bersemangat melukis.
Akhirnya dengan usaha kerasnya, akhir tahun 2011, tepat saat hari ulang tahunnya, obsesinya untuk mengadakan pameran lukisan tunggal tercapai.

Jumat, 30 Agustus 2013

Cerpen Ke sembilan



SHE LIN DAN BUAH ANGGUR
Kokok ayam jantan terdengar bersahutan, memecah kesunyian di pagi buta. Suara binatang malam pun tenggelam oleh suara derit roda perigi yang berputar, gemericik air yang terpercik, gemeretak kayu yang terbakar api, dan kelontang alat dapur yang beradu.
She Lin menggeliat dan perlahan membuka matanya.
“Aaaahhhh…. Sudah waktunya bangun,” kata She Lin sambil menguap.
Setelah beberapa kali menggeliat dan menguap, She Lin bergegas bangkit dari ranjangnya sambil mengucek kedua matanya. Ia melangkah ke luar dari biliknya menuju ke perigi di belakang rumah. She Lin mengambil beberapa timba air untuk membersihkan diri. Setelah itu, She Lin bergegas menyiapkan segala sesuatu dan bersiap  menuju ke ladangnya.
She Lin mengerjakan segala sesuatu seorang diri, karena ia hidup sebatang kara. Kedua orang tuanya meninggal dunia dua tahun yang lalu karena wabah penyakit yang melanda desanya. She Lin menggantungkan kehidupannya pada hasil ladang peninggalan orang tuanya.
Sepeninggalan orang tuanya, She Lin belajar menjadi seorang petani yang rajin dan mandiri. Ia menanam berbagai jenis buah dan sayuran di ladangnya yang cukup luas. Setiap pagi ia menuju ke ladangnya, memeriksa tanamannya, memetik buah atau sayur yang telah siap panen, dan membawanya ke pasar. Dari situlah ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Apabila hasil panennya berlebih, She Lin tak segan membaginya dengan para tetangga dan sahabatnya.
Suatu ketika, pohon delima di ladangnya berbuah. Ia memutuskan untuk memetik beberapa buah delimanya yang cukup besar dan merah merona, kemudian menghadiahkannya pada Sang Raja. Dengan mengendarai kuda, She Lin berangkat ke istana menemui Sang Raja. Sang Raja sangat senang menerima buah delima pemberian She Lin. Sang Raja pun memberi She Lin hadiah yang cukup banyak sebagai ucapan terima kasihnya. She Lin pulang dengan perasaan bahagia.
Selang beberapa waktu kemudian, lobak Cina di ladang She Lin telah siap di panen. Ia pun berencana memberikan sekeranjang penuh buah lobak Cina yang cukup besar dan segar kepada Sang Raja. Ketika ia telah siap untuk berangkat ke istana, seorang tetangga She Lin melihatnya dan bertanya,
“Hendak kemana engkau, She Lin?”
“Aku akan ke istana untuk memberikan lobak-lobak ini pada Sang Raja,” jawab She Lin.
“Apakah lobak-lobak ini pantas diberikan pada Sang Raja? Sungguh sangat memalukan! Lebih baik, kau berikan sesuatu yang manis dan mahal untuk Sang Raja. Belilah sekeranjang buah anggur dan berikan pada Sang Raja,” kata tetangganya.
She Lin pun bimbang. Ia merasa telah memilihkan lobak Cina yang terbaik untuk Sang Raja. Namun akhirnya, ia mengurungkan niatnya untuk memberikan lobak-lobaknya pada Sang Raja. Ia pun pergi ke pasar untuk membeli sekeranjang buah anggur yang terbaik dan segera berangkat ke istana.
Ketika She Lin sampai di istana, ternyata Sang Raja sedang murka. Raut mukanya terlihat sangat menakutkan, hingga siapa pun tidak berani untuk melihat wajahnya. Hati She Lin menciut. Dengan gemetar, ia menyampaikan maksud kedatangannya, sambil menyerahkan sekeranjang buah anggur kepada Sang Raja.
Bukannya berterima kasih dan memberi hadiah, Sang Raja malah melampiaskan kemarahannya pada She Lin. Sang Raja mengusir She Lin dan menyuruh para pengawal untuk melemparinya dengan buah anggur yang dibawa She Lin.
She Lin pun berlari keluar. Dan setiap kali anggur-anggur itu mengenai tubuhnya, She Lin berkata,
“Semoga Tuhan memberimu pahala, Tetanggaku yang baik!”
“Semoga Tuhan memberimu kekayaan yang melimpah, Tetanggaku yang baik!”
Mendengar perkataan She Lin, Sang Raja heran dan menyuruh sang pengawal menghentikan lemparannya pada She Lin. Sang Raja pun bertanya,
“Mengapa engkau berkata seperti itu?”
Sambil meringis menahan sakit, She Lin berkata, “Tuanku, kemarin hamba telah memanen lobak-lobak hamba. Hamba berniat memberikan lobak Cina yang besar dan segar pada Paduka. Namun, tetangga hamba mengatakan bahwa memberikan lobak Cina pada Paduka adalah hal yang memalukan. Maka, ia menyarankan untuk memberikan sekeranjang buah anggur yang manis pada Paduka.”
She Lin menghela nafas sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya.
“Jika saja hari ini hamba memberikan lobak Cina pada Paduka, maka tulang-tulang hamba pasti sudah remuk, karena dilempari lobak Cina yang besar-besar. Bukankah sudah seharusnya saya berterima kasih pada tetangga hamba dan mendoakan kebaikan untuknya?”
Mendengar jawaban She Lin, Sang Raja pun tersenyum dan mengangguk-angguk senang. Ia sangat takjub mendengar jawaban She Lin yang menggelikan namun masuk akal. Kemarahan Sang Raja pun akhirnya hilang dan berganti dengan kegembiraan. Sang Raja kemudian memberikan hadiah sekantung uang emas pada She Lin dan berterima kasih. She Lin pun kembali ke desanya dan membagi kebahagiaannya dengan para tetangganya.